Hosting Unlimited Indonesia

11 Okt 2011

Hukum Jualan Kosmetik

oleh: Ust. Aris Munandar, S.S., M.A.



Pertanyaan, “Apa hukum menjual kosmetik wanita?”
Jawaban, “Tidak diperbolehkan menjual kosmetik yang salah satu unsur pembuatnya adalah janin manusia, tali pusar bayi dan semisalnya karena menjadikan bagian dari tubuh manusia sebagai salah satu unsur pembuatan kosmetik adalah tindakan melampaui batas terhadap anggota badan manusia yang ini merupakan perbuatan haram berdasarkan berbagai dalil syariat.

Demikian pula, tidaklah diperbolehkan memperdagangkan kosmetik yang salah satu unsur pembuatannya adalah babi atau membagai macam bangkai itu semua adalah najis. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa barang yang tidak boleh diambil manfaatnya itu tidak sah jika diperjualbelikan semisa khamar, babi, bangkai dll.
Landasan hukum untuk kaedah di atas adalah sabda Nabi,

«إِنَّ الله وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الخمْرِ وَالميْتَةِ وَالخنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ» ثمَّ قال عند ذلك: «قَاتَلَ اللهُ اليَهُودَ إِنَّ اللهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ(١1) ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ»

“Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan patung”. Kemudian Nabi mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai mereka menjadikan lemak bangkai sebagai minyak lantas menjualnya dan menikmati hasil penjualannya” [HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah].

Para ulama pun telah bersepakat akan haramnya pemanfaatan lemak bangkai, pemanfaatan babi dan minyak-minyak yang bercampur dengan najis pada makanan manusia atau pun sekedar dioleskan atau dilumurkan ke badan. Dua macam pemanfaatan ini haram hukumnya sebagaimana haramnya mengonsumsi bangkai dan mengolesi badan dengan najis.
Dalilnya adalah firman Allah,

[قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ﴾[الأنعام: 145]

Yang artinya, “Katakanlah, tidaklah kujumpai dalam wahyu yang diberikan kepadaku adanya makanan yang haram melainkan bangkai, darah memancar atau daging babi. Itu semua adalah najis” [QS al An'am:145].

Demikian pula, tidaklah diperbolehkan memperjualbelikan kosmetik yang menyebabkan rusaknya wajah semisal menimbulkan noda hitam di wajah atau pun menyebabkan timbulnya berbagai penyakit kulit pada bagian tubuh yang lain dikarenakan kosmetik tersebut mengandung materi kimiawi yang merusak kulit. Segala sesuatu yang membahayakan itu terlarang digunakan dan terlarang untuk diperjualbelikan karena Nabi bersabda,

«لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau pun orang lain” [HR Ibnu Majah dari Ibnu Abbas. Dinilai sahih oleh al Albani di al Irwa'].

Jika sebuah kosmetik itu bersih dari unsur yang haram, najis atau membahayakan badan maka pada dasarnya boleh dipergunakan oleh para wanita selama wanita tersebut hanya menampakkan kosmetik tersebut kepada orang-orang tertentu yang Allah izinkan. Termasuk kosmetik dalam hal ini adalah berbagai bentuk parfum.

Akan tetapi seorang muslimah haram memakai parfum dalam tiga keadaan:
Pertama, saat dalam kondisi ihram haji atau umroh. Dalilnya adalah sabda Nabi mengenai orang yang dalam kondisi berihram
«…وَلاَ تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانُ وَلاَ الوَرْسُ»
“Tidak boleh memakai kain yang dicelup dengan za'faran atau waras [nama parfum dan pewarna kain, pent]” [HR Bukhari dari Ibnu Umar].

Ketentuan yang ada dalam hadits tersebut bersifat umum sehingga berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.
Kedua, saat berkabung karena meninggalnya suami. Nabi bersabda,

«لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا»

“Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung [baca: tidak berparfum, pent] atas meninggalkan seseorang lebih dari tiga hari kecuali jika yang meninggal adalah suaminya maka dia wajib berkabung selama empat bulan sepuluh hari” [HR Bukhari dan Muslim dari Ummu Habibah].

Ketiga, ketika keluar rumah meski dengan tujuan mau ke masjid. Jika hendak keluar rumah seorang muslimah harus menghilangkan bau parfum yang melekat pada badannya. Seorang muslimah yang keluar rumah dalam keadaan memakai parfum dan dalam keadaan berhias itu tergolong dosa besar meski diizinkan oleh suami mengingat sabda Nabi,

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ»

“Jika seorang wanita mengenakan parfum lantas melewati sekumpulan laki-laki dengan maksud agar mereka mencium semerbak wangi dirinya maka dia adalah pelacur” [HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Musa al Asy'ari, dinilai sahih oleh al Albani dan dinilai hasan oleh Muqbil al Wadi'i].
Nabi juga bersabda,
«إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ المسْجِدَ، فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا»
“Jika salah satu kalian, para muslimah, mau pergi ke masjid maka janganlah dia memaki parfum” [HR Muslim dari Zainab, istri dari Abdullah bin Mas'ud].
Seharusnya seorang muslimah itu berdandan dan memakai parfum hanya untuk suaminya ketika berada di rumah, bukan ketika keluar rumah tempat mana pun yang akan dia tuju.

Hukum jual beli kosmetik dan alat kecantikan bisa kita rinci sebagai berikut:

Pertama, berjual beli kosmetik dan alat kecantikan dengan seorang wanita yang kita ketahui dia akan menggunakan kosmetik yang dia beli untuk dipamerkan di luar rumah, dalam kondisi ini jual beli hukumnya terlarang karena tergolong tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran syariat mengingat sabda Nabi,

«مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»

“Tidaklah kutinggalkan setelah kematian suatu sumber penyimpangan yang lebih berbahaya bagi laki-laki dibandingkan wanita” [HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid].

Nabi juga bersabda,
«فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةَ بَنِي إِسْرَائيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ»

“Waspadalah dengan godaan dunia dan waspadalah dengan godaan wanita karena sesungguhnya kerusakan Bani Israil itu pertama kali disebabkan oleh wanita” [HR Muslim dari Abu Said al Khudri].

Kedua, jual beli alat kecantikan dengan wanita yang kita ketahui dia hanya akan mempergunakan apa yang dia beli untuk berdandan dan berhias yang dibenarkan oleh syariat, hukum jual beli ini tentu saja tidak mengapa.
Ketiga, jika kita tidak tahu secara pasti bentuk penggunaan seperti apa yang akan dilakukan oleh pembeli dengan kosmetik dan alat kecantikan yang dia beli, hukum jual beli dalam kondisi ini perlu dirinci sebagai berikut dengan menimbang kondisi yang dominan di masyarakat terkait penggunaan kosmetik dan alat kecantikan:
jika mayoritas anggota masyarakat menggunakannya untuk berhias dan berdandan yang dibenarkan oleh syariat maka hukum jual beli kosmetik dan alat kecantikan dengan orang yang tidak kita ketahui secara pasti bentuk penggunaan seperti apa yang akan dia pilih itu diperbolehkan.
Namun jika umumnya anggota masyarakat menggunakannya dengan penggunaan yang tergolong melanggar syariat maka tidak boleh berjual beli dengan orang yang tidak kita ketahui secara pasti akan menggunakan apa yang dia beli dalam penggunaan yang tidak melanggar syariat.

Dua rincian ini ditetapkan dengan menimbang kaedah dalam ilmu fikih:

«الحُكْمَ لِلْغاَلبِ،ِ وَالنَّادِرُ لاَ حُكْمَ لَهُ»

“Penilaian itu mengacu kepada unsur yang dominan. Hal yang langka-langka terjadi itu tidak mempengaruhi penilaian”

«مُعْظَمُ الشَّيْءِ يَقُومُ مَقَامَ كُلِّهِ»

“Unsur dari sesuatu yang paling mendominasi itu kita statuskan sebagaimana sesuatu itu sendiri”.
Al Qarafi al Maliki mengatakan, “Pada dasarnya yang menjadi acuan penilaian yang hal yang dominan. Itulah yang lebih didahulukan dari pada hal yang langka terjadi. Inilah kaedah syariat sehingga kita menangkan unsur yang dominan terkait kesucian air dan transaksi yang dilakukan oleh kaum muslimin. Demikian pula persaksian menyudutkan seorang terhadap musuhnya itu tidak dianggap karena mayoritas tindakan orang yang menjadi musuh itu berupaya menzalimi musuhnya. Sangat banyak contoh penerapan kaedah di atas dalam berbagai hukum syariat sampai-sampai tidak bisa kita hitung karena demikian banyaknya contoh tersebut”[al Furuq 4/104].

Jika kondisi masyarakat adalah kondisi yang kedua maka dalam kondisi ini yang terbaik baik pedagang kosmetik dan alat kecantikan -jika tidak mampu menyaring konsumen yang dilayani- adalah beralih profesi kepada profesi yang lebih selamat secara tinjauan agama meski kurang menjanjikan keuntungan.
Namun jika pelanggaran syariat soal berdandan dan berhias di suatu masyarakat itu jarang terjadi dan tidak menyebar luas dan penjual tidak tahu pasti kondisi konsumennya maka dalam kondisi ini penjual boleh menjual barang dagangannya kepada konsumen tersebut dengan pertimbangan bahwa umumnya anggota masyarakat tidak melakukan pelanggaran dalam masalah ini.
Meski demikian jika ada konsumen yang kondisi lahiriahnya sangat diragukan apakah dia tidak akan melanggar syariat dengan kosmetik dan alat kecantikan yang dia beli maka penjual hendaknya tidak melayani konsumen semacam itu dalam rangka mengamalkan hadits Nabi,

«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ»

“Tinggalkan hal-hal yang meragukan dan lakukan saja hal-hal yang tidak meragukan” [HR Tirmidzi, Nasai da Ahmad dari al Hasan bin Ali, dinilai sahih oleh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq beliau untuk Musnad Ahmad, al Albani di al Irwa dan Muqbil al Wadii dalam as Sahih al Musnad].

Perlu diketahui bahwa transaksi jual beli kosmetik dan alat kecantikan yang mubah tidaklah sah jika dilakukan bersama orang yang kita ketahui akan menggunakannya dalam kemaksiatan atau menggunakannya dalam hal yang Allah haramkan meski ketika itu penjual memberikan nasihat kepada pembeli atau calon pembelinya tersebut agar tidak mempergunakan barang yang dibeli untuk bermaksiat karena pada dasarnya kita nilai orang tersebut berdasarkan kondisinya yang sudah sudah sampai ada fakta bahwa orang tersebut sudah berubah. Sedangkan adanya nasihat dalam kondisi ini bukanlah fakta dan bukti bahwa dia telah berubah karena nasihat itu boleh jadi diterima atau tidak diterima. Sehingga tidak mungkin mengadakan transaksi jual beli yang sah dengan orang tersebut sampai terdapat bukti bahwa kondisi konsumen sudah berubah karena dia mau menerima nasihat dan mengamalkannya”.

Referensi: http://www.ferkous.com/rep/Bi163.php
Artikel www.PengusahaMuslim.com

Read more.... Hukum Jualan Kosmetik

1 Okt 2011

Jangan Raih Kesuksesan Yang Tidak Sukses


EBOOK yang sangat direkomendasikan :
"Jangan Raih Kesuksesan Yang Tidak Sukses" (JRKYTS)
Harga E-book : Rp. 25.000
Uuntuk Harga Versi Cetak sekitar 40rb diluar ongkos kirim, insya Allah mulai dicetak Januari 2012

Daftar isi ebook JRKYTS edisi REVISI :
1. Kata Pengantar
2. Bid’ah Apanya?
3. Siapa Suruh Anda Sukses? 
4. So, Mana yang Lebih penting?
5. Kalau Punya Utang, Jangan Dipikirkan!
6. Jangan Fokus Kepada Masalah!
7. Jangan Fokus Kepada Solusi, Why?
8. Jangan Bereskan Masalah Anda!
9. Jangan Suka Main Tangan Ketika Mengubah Dunia!
10. Bukan Mencari Guru atau Mencari Nilai, tapi Mencari Ilmu
11. Permainan di Dalam Permainan 
12. Kemaksiatan yang Dianggap kesuksesan
13. Berpikir Positif kok Malah Negatif
14. Bukan Hasilnya, Tapi Niat dan Prosesnya
15. Jangan Gampang Kasihan
16. Lo-gika yang Bikin Loe-gila
17. Mengenal Tujuh Level Kecerdasan (SEI)
18. Mendeteksi Sang Penghalang Kesuksesan Sejati 
19. Empat Cara Melawan Mental Block Sang Kenangan
20. Anda Bukanlah yang Anda Pikirkan
21. Anda Bukanlah yang Anda Yakini
22. Anda Bukanlah Tuhan
23. Keyakinan, Fuad, Batin, dan Bawah Sadar
24. Okir vs Okan 
25. Lalu, Siapakah Anda?
26. Memiliki Impian itu Bikin Susah Saja?
27. Jangan Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit
28. Kalau Perlu, Hancurkan Impianmu itu 
29. Keinginan, Kebutuhan, dan Tawakkal 
30. Semangat dan Motivasi Palsu 
31. Sel Spermatozoa dan Motivasi yang Kurang Pas
32. Ingin Sukses, tapi gak Mau Bayar
33. Otak yang Ketagihan Sukses Palsu
34. Maka Simpanlah Otakmu di Lutut!
35. Otak Tengah yang Mana?
36. Iblis pun Tak Berani Menjadi Tuhan 
37. Kok Malah Bertuhan Kepada Iblis? 
38. Menuhankan Waktu 
39. Antara Sihir dan Sains 
40. Menyikapi Frekuensi Impian, Cinta, Pelet, dan Santet
41. So, Jangan Merasa Membutuhkan Uang  
42. Mengenal Teknik Satu Jengkal 
43. Terapi Teknik Menidurkan
44. Keuntungan dan Bahaya Hypnosis 
45. Ikhlas yang Tidak Ikhlas
46. Dua Model Ketenangan
47. LoU vs LoA
48. Jangan Analisa Rezeki Allah
49. Tambah Dalam lagi, LoU vs LoA
50. Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, Mengapa Harus LoU?
51. Hidayah dan Taufik, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim
52. Terapi Impian Metode SEI
53. Antara Sunnatullah, Takdir, Syari’ah, dan Hasil Akhir 
54. Tiga Ruang Dada 
55. Terikat Dunia 3-ta 
56. Melepas Ruang dan Waktu dengan Sabar dan Syukur 
57. Dilihat-Nya, Tafakur Cinta di Ruang Tenang 
58. Kata Siapa “Setelah Kesulitan ada Kemudahan”?
59. Kata Siapa “Hidup bagaikan Roda, Kadang di Atas dan Kadang di Bawah”?
60. Memperbaharui Syahadat Cinta Sejati  
61. Membenahi Niat 
62. Kesimpulan 1, Sebuah Autokritik 
63. Kesimpulan 2, Resep Kebahagiaan dan Kesuksesan  
64. Kesimpulan 3, Awalilah dari Akhir
65. Penutup

Pendapat Para Pakar Muda di bidang SDM tentang buku JRKYTS :

Endorsment 1

“Meski ada pendapatnya yang tidak saya setuju, saya benar-benar tercerahkan dengan buku ini. Jiwa saya menemukan ‘Aha’, pikiran saya menemukan ‘Kalau Begitu...’, perasaan saya Senang, Puas, dan Bahagia. Terimaksih Kang Zain.” (Supardi Lee, Pengusaha, Motivator Nasional, Penulis, dan Pengisi Trijaya FM).

Endorsment 2

"Anda sudah mengenal apa itu motivasi dan pengembangan diri. Buku ini melangkah lebih tinggi lagi, membawa Anda ke tingkatan meta-motivasi dan meta-pengembangan diri. Buku ini mengingatkan kita untuk mengembalikan apapun fenomena tentang diri kepada sang Pencipta dan sang Pemilik diri. Sebab kehidupan, adalah tentang penyembahan kepada Allah SWT. Maka buku ini, pantas dan penting mendampingi koleksi motivasi dan pengembangan diri Anda. Insya Allah." (Ikhwan Sopa, Master Coach MPdP, Master Trainer E.D.A.N., Penulis "Manajemen Pikiran dan Perasaan).

Endorsment 3

“Sebuah buku yang mampu mengantarkan pembaca pada kekuatan sukses sugesti yang benar dengan cara yang benar. Anda akan berkata ‘Wahai Masalah, Allah itu Maha Besar’, dan meninggalkan kata ‘Wahai Allah, masalahku sangat besar’.”  (Aris Ahmad Jaya, Mr. Sugesti Indonesia, Penulus Buku Best Seller ’30 Hari Mencari Jati Diri’).

Endorsment 4

“Gayanya ceplas ceplos, ngga semua orang bisa mencerna dan menerima ide dan penjelasan dalam buku ini. Tapi apapun itu, buku ini menjadi satu tambahan wawasan untuk saya pribadi dan para pembaca lainnya. Selamat Kang Zain, barakallah.” (Irma Rahayu, Soul Healer, Emotional Healing Indonesia).

Endorsment 5

“Jika Anda merasa ditampar, ditendang atau bahkan dipukuli ketika membaca buku ini, bersyukurlah. Semoga itu pertanda bahwa hati Anda masih hidup. Buku ini ibarat cermin, ketika Anda membacanya seolah-olah anda diajak untuk merapihkan dan membersihkan diri Anda. Buku ini mengajak Anda jujur dalam membenahi diri. Buku ini mengajak Anda merenung sambil tersenyum. Bagi Anda yang sedang menapaki tangga kesuksesan, buku ini harus Anda baca…!!!” (Arif Dahsyat, Direktur Sekolah Motivator Muda Indonesia, Ketua Gerakan Nasional Ayo Menulis Minimal 1 Buku dalam Hidupmu)

Endorsment 6

"Di Buku ini, poin penting yang sangat KLIK dengan pemahaman saya, yaitu ajakan untuk menjadi pribadi yang tenang dan damai. Dalam perspektif ilmu fisika quantum itu setara dengan mengakses zero point field yaitu sebuah medan dimana segala sesuatu yang "ada" di situ bergerak di atas kecepatan cahaya dan menembus ruang waktu. Zero point field ini sebenarnya bukan ruang kosong. Ia ibarat sebuah aquarium yang kacanya sangat bening dan berisi air yang sangat jernih sehingga kita menyangka di dalam aquarium itu kosong. Secara ilmiah, siapapun yang bisa mengakses zero point field akan menjadi pribadi yang sangat luar biasa. Buku ini judulnya bukan ilmu fisika quantum namun hakikatnya ilmu fisika quantum. KEREN !!!" (ARIF RH, Penulis buku THE POWER OF MIND; MEMBONGKAR RAHASIA KEKUATAN PIKIRAN EMOSI DAN ALAM SEMESTA, dan Master Trainer "Welcome To Quantum World; Menyelami Rahasia Diri Manusia dan Alam Semesta, Menyadari Hakikat Kehidupan")

Endorsment 7

Mantap, buku yang tidak hanya mencerahkan dari sisi spiritual, tetapi juga dari sisi sosial.  Bahwa HIKMAH adalah milik ummat Islam yang hilang, dan jika kita menemukannya maka kita berhak mengambilnya. Namun demikian, alangkah lebih baik ketimbang mencari dan mendapatkan barang yang hilang, sebaiknya kita fokus pada yang barang yang sudah ada dan kita miliki saat ini. Mencari dan mendapatkan barang yang hilang merupakan hak kita, tetapi kewajiban kita yang utama adalah mengeksplorasi barang yang sudah di tangan dan jelas – jelas kelihatan di depan mata. (Hari ‘Soul’ Putra, Soul Motivator, CEO Sa’i Center, Praktisi P3K-Pertolongan Pertama Pada Kehidupan-  www.p3kcheckup.com )

Endorsment 8

Membaca buku  ini, jadi tersadar akan banyak hal yang dilakukan namun tidak menyertakan Sang Ilahi dalam prosesnya. Walaupun dalam beberapa kajian terasa terlalu 'LEBAY' terutama saat membahas ilmu-ilmu barat, namun saya kira beliau memiliki maksud yang baik. Walaupun terkesan ada ‘Judgement terlalu dini’ pada pihak lain, tapi saya yakin kelanjutan silaturahmi antar Praktisi tetap utuh dan terjaga. Dan, sebagai seorang pejuang, Kang Zain adalah seorang pemberani yang berjuang demi perubahan karena-Nya. Selamat Kang Zain, Anda memang Provokator Sejati! (Fahmy Terapis Gaul, Founder and Master Trainer EFT Revolution, Trainer, Healer,Pembelajar Pengembangan Diri dan Pakar Penyembuhan Patah Hati).

Endorsment 9

“Saya terkejut dengan ide-ide 'provokatif' yang disampaikan di buku ini ttg kesuksesan krn begitu banyak hal yg frontal diungkap pada buku ini. Tapi inilah kesuksesan yg anda butuhkan. Bukan hanya anda, bahkan seluruh motivator harus baca buku ini!!” (Archan Sang Provokator, - CEO SPIN Inc., Pendiri Akademi Motivator BINTANG REVOLUSI, Presiden Komunitas Motivasi Pemuda Indonesia, Penggagas Gerakan IndONEsia Berkarakter.)

Endorsment 10

“....SUBHANALLAH....Buku dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, nikmat dibaca, bergizi & bisa men TRANSFORMASI dari KESUKSESAN Semu menuju KESUKSESAN HAKIKI......Bacalah anda akan merasakan TRANSFORMASI.....” (Dudi "Motivator Transformasi" Mardiyansyah, Penulis 3 buku, President HRNLP Indonesia, International NLP Coach & Trainer. Founder www.TransformerIndonesia.Com & www.hrnlp.com)

Endorsment 11

"Sebetulnya saya tidak setuju dengan istilah bid'ah kesuksesan, tapi setelah saya baca isinya, ternyata maksud dari Kang Zain adalah bahwa kesuksesan sejati itu tidak seperti yang dipahami sebagai hasil kreasi baru (pengganti istilah bid'ah) kebanyakan orang barat saat ini, lalu seperti apa? Bacalah buku ini.” (Anas Rumahbaca, Penulis, Guru, Blogger)

Endorsment 12

"Sepertinya Kita perlu redefinisi makna sukses setelah membaca Buku ini. Tak dipungkiri, orang lain sering melihat kesuksesan seseorang itu lebih kepada kedudukan / jabatan dan materi yang diperoleh daripada kebahagiaan / ketenangan yang dirasakan. Adalah lebih penting mengetahui kemana kita berjalan daripada kita tahu sekedar sedang berjalan? Buku ini juga mengajak kita belajar kritis dan mengkritisi logika yang selama ini terbilang cukup mapan. Dan hasilnya kadang saya dibuat kaget karena Lo-gika tersebut bisa menjadi Loe-gila" (Deden Wahyudin, SE - Pegawai Perum Jamkrindo dan Pengelola Page Beranda Kita).

Endorsment 13

"Saya sangat tidak menyarankan buku ini untuk dibaca oleh mereka yang masih bersikeras dengan arti dari kesuksesan yang selama ini digembar-gemborkan, dengan membaca buku ini kita diajak untuk merubah paradigma sekaligus melampaui kesuksesan itu sendiri , inilah manual book menuju kesuksesan sejati" (Rizal Sastrapraja, Sang Ubaru, make ur mind like a rocker, Trainer and Creator of GiriPraja Consulting)

Endorsment 14

"Bacalah buku ini dengan hati, karena beberapa poin bisa jadi terkesan kontroversi dengan ilmu kesuksesan dan pengembangan diri yang Anda ketahui selama ini. Selebihnya banyak hal yang mencerahkan, Anda akan dibimbing dalam perjalanan meraih kesuksesan melalui kesadaran bahwa kita ber-Tuhan." (M. Gunarsah, Penulis dan Co-Facilitator Emotional Healing Indonesia TM)

Endorsment 15

"Ketika banyak dari kita mengalami kekosongan jiwa, keringnya ruhani, atau hampanya hidup, maka buku ini cocok untuk menjadi penawarnya. Kang Zain dengan apik menuntun kita untuk merangkai puzzle-puzzle kesadaran yang telah lama terserak. Pembahasan yang mudah dicerna adalah salah satu keistimewaannya. Bacalah buku ini, otomatis kita akan bertafakur, memasuki suatu 'dunia' yang jarang manusia sentuh namun seluruh manusia sangat merindukannya.." (Muhammad Maula Nurudin Alhaq, Pengusaha Muda, Penulis, dan Pemerhati Metafisika)

From : cahaya-semesta.com
Read more.... Jangan Raih Kesuksesan Yang Tidak Sukses

12 Sep 2011

Do'a dari 70 Ribu Malaikat

Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya. (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).
Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, ‘Shalawat malaikat bagi anak adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah. Sedang yang dimaksud dengan ‘kapanpun di siang hari’ yakni waktu ia menjenguk. Jika ia menjenguknya di siang hari, maka malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya di malam hari, maka malaikat mendoakannya hingga pagi. Oleh karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang, atau bersegera begitu malam menjelang, agar semakin banyak didoakan malaikat.


‘Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiring oleh 70.000 malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiring oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi, dan ia mendapat taman di jannah.’ (musnad ahmad 2/206, hadits 975. Syaikh ahmad syakir menilai hadits ini shahih)

AKU SAKIT, TETAPI KAMU TIDAK MENJENGUK-KU!
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’
Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’
Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’
(diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)
HUKUM MENJENGUK ORANG SAKIT

Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhiundangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutera, dibaj (sutera halus), qasiy (sutera kasar), dan istibraq (sutera tebal). (Bukhari no.1239; Muslim no.2066)

Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit, membuat Imam Bukhari membuat “bab Wujubi ‘Iyadatil-Maridh” (Bab Kewajiban Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.
Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.
Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib, yakni wajib ‘ain, (melainkan wajib kifayah).

MANFAAT MENJENGUK ORANG SAKIT

Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas, menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
  1. Menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si sakit.
  2. Menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.
  3. mencari tahu apa yang diperlukan si sakit.
  4. mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.
  5. mendoakan si sakit
  6. melakukan ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syar’i.
MESKI SAKIT RINGAN, TETAP DIJENGUK!

Hadits-hadits yang ada, menyuruh dan mengajurkan untuk menjenguk orang sakit, baik yang sakit kecil maupun dewasa, anak-anak maupun orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita. Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit atau pun tidak.
Menjenguk orang sakit tetap dianjurkan, bahkan terkadang, dalam kondisi tertentun menjadi wajib, tanpa melihat bentuk penyakit tersebut, apakah tergolong parah atau ringan. Hal ini sudah mulai memudar di antara kita, bahkan seringkali sebagian kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang sakit; jika sudah masuk rumah sakit. Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit yang menjenguknya. Apalagi jika penyakit tersebut digolongkan penyakit ringan. Padahal, nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabatnya yang ‘hanya’ sakit mata. Sakit mata biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, ‘mengenai menjenguk orang yang sakit mata, bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia menceritakan, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena saya sakit mata.’ (lihat adabul mufrad, no.532)

MENJENGUK LAWAN JENIS?

Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sedang sakit, ataupun sebaliknya; meskipun bukan mahramnya. Akan tetapi, hal ini dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak terjadi khalwat (berduaan dengan lawan jenis).

Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” (HR. Bukhari no.5654)
Ibnu Syihab meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanaif, ‘Bahwa dirinya diberitahu bahwasanya ada seorang wanita miskin yang sedang sakit. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun diberitahu tentang sakitnya wanita tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu suka menjenguk orang-orang miskin dan menanyakan keadaan mereka.” (HR. Malik, Al Muwaththo’ no.531)

BOLEHKAN MENJENGUK ORANG MUSYRIK?

Menjenguk orang kafir oleh sabagian ulama dihukumi makruh. Hal ini dikarenakan: secara implisit (tidak langsung) merupakan penghormatan kepada mereka. (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/276).
Namun sebagia ulama yang lain berpendapat bolehnya menjenguk orang kafir apabila ada harapan untuk masuk islam. Pendapat ini lebih dekat kepada apa yang dilakukan oleh Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Anas bin Malik meriwayatkan, ‘Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia sakit, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya. Kemudian beliau bersabda, ‘Masuklah Islam!” Maka dia pun masuk Islam.” (HR. Bukhari no.5657)
Sa’id bin Musayyib meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, ‘Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya seraya bersabda, ‘Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illa Allah’ sebuah kalimat yang bisa aku jadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah kelak.’ (HR. Bukhari no.6681)

KAPAN WAKTU MENJENGUK ORANG SAKIT?

Tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit. Oleh karena itu, dapat dilakukan kapan saja, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya.

Salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberinya dukungan moral, sehingga sangat tidak bijaksana jika kedatangan kita malah merepotkan yang bersangkutan.
Waktu yang tepat untuk menjenguk berbeda-beda pada setiap keadaan. Berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya. Oleh karena itu, kita harus jeli mencari waktu yang pas untuk menjenguk, mampu memperkirakan kondisi si sakit & keluarganya (sedang beristirahat atau tidak, sedang banyak tamu atau tidak, dan lain sabagainya).

PERSINGKAT WAKTU KUNJUNGAN!

Hendaknya kita memperhatikan waktu ketika menjenguk orang sakit. Jangan sampai terlalu lama, karena hal ini bisa membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.
Ibnu Thowuss mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata, ‘Sebaik-baik kunjungan kepada orang sakit ialah yang paling singkat.’

Asy-Sya’bi mengatakan, ‘Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga si sakit daripada sakitnya salah seorang angota keluarga mereka. Yaitu, orang yang datang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.’ (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/277)
Namun, apabila si sakit suka berlama-lama dengan penjenguknya, dan ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya keinginan tersebut dikabulkan oleh si penjenguk. Sebab, hal ini berarti memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepada si sakit.

Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Sa’ad bin Mu’adz sewaktu ia menjadi korban perang Khandaq. Ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar Sa’ad dibuatkan kemah di dalam masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat. Sahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dikunjungi berulang kali? (lihat Bukhari no.463)

BERAPA KALI MENJENGUK SESEORANG?

Hal ini dikembalikan kepada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, berapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.
Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari waktu ke waktu, dalam hal ini tidak ada batasan waktu tertentu.

MENJENGUK ORANG YANG PINGSAN ATAU KOMA

Orang sakit yang dapat merasakan kehadiran kita dan yang tidak dapat merasakan kehadiran kita (misalnya karena pingsan atau koma), sama-sama memiliki hak untuk dijenguk. Janganlah kita enggan menjenguknya, dengan alasan, toh…mereka tidak tahu dijenguk atau tidak…mereka tidak dapat merasakan kehadiran kita.
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ‘Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya. Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harpaan mendapatkan berkah dari doa penjenguk, sentuhan tangannya kepada si sakit, meniupkan bacaan mu’awwidzat, dan lain-lain.’  (Fathul baari, 10/119)

DIMANA POSISI DUDUK PENJENGUK?

Orang yang menjenguk, dianjurkan duduk di dekat si sakit.
‘Adalah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.’ (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no.536, hadits shahih)
Diantara manfaat duduk di sisi kepala si sakit: memberi rasa akrab kepada si sakit, dan memungkinkan bagi penjenguk untuk menyentuh si sakit, memanjatkan doa untuknya, meniupnya dengan ruqyah, dan lain sebagainya.

MENANYAKAN KEADAAAN SI SAKIT

Ada baiknya kita menanyakan keadaan si sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha,  Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” (HR. Bukhari no.5654)

JANGAN PAKSA SI SAKIT BERCERITA PANJANG LEBAR!

Diantara maksud mengunjungi si sakit adalah untuk meringankan kan penderitaannya, oleh karena itu jangan sampai membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.
Satu hal yang dapat membebani si sakit atau keluarganya adalah pertanyaan kronologis musibah atau penyakit. Si sakit atau keluarga diminta untuk menceritakan kronologis kejadian yang cukup panjang; dan repotnya lagi, cerita ini harus diceritakan berulang kali karena hampir setiap pembesuk menanyakan, ‘awal mulanya bagaimana?’ ; ‘kejadiannya bagaimana?’ 1

HIBUR & BERIKAN HARAPAN SEMBUH!

Ada baiknya penjenguk menghibur si sakit atau keluarga si sakit dengan pahala-pahala yang akan di dapat mereka.
‘Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya.’ (HR. Muslim)
‘Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.’  (HR. Tirmidzi)
‘Saat orang-orang tertimpa musibah diberi pahala di hari kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi…’ (HR. Tirmidzi)

Ada baiknya pula penjenguk memberikan harapan sembuh kepada si sakit. Misalnya dengan mengatakan.   ‘Tidak perlu kuatir, insya Allah Anda akan sembuh.’ atau ‘penyakit ini tidak berbahaya, Anda akan segera sembuh,insya Allah.’ atau kalimat-kalimat lain yang dapat menumbuhkan semangatnya untuk sembuh.

JANGAN MENAKUT-NAKUTI!

Apa yang kita sampaikan kepada si sakit maupun keluarganya, harus kita perhatikan benar-benar. Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat menumbuhkan motivasi atau meringankan musibah yang dialami mereka. Jangan sampai apa yang kita sampaikan malah menimbulkan rasa takut & cemas terhadap si sakit maupun keluarganya.
Diantara yang dapat menimbulkan rasa takut adalah cerita atau kabar bahwa seseorang mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan cacat seumur hidup, dengan kematian….; kalau maksud yang bercerita adalah agar keluarga si sakit berhati-hati dan waspada terhadap musibah yang diderita si sakit, alangkah baiknya jika di kemas dengan kalimat-kalimat yang baik.2

MEMAHAMI KELUHAN SI SAKIT

Keluhan yang diucapkan si sakit ada dua kemungkinan:
Pertama, diucapkan sebagai ekspresi kekesalan dan kejengkelan. Hal ini tentnu saja dilarang oleh agama Islam, karena merupakan indikator lemahnya keyakinan dan tidak rela terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita mendengar keluhan semacam ini, si sakit segera diingatkan, dinasehati dengan cara yang baik.

Kedua, diucapkan dalam rangka memberi informasi tentang dirinya tanpa mengharap belas kasih kepada makhluk dan tidak pula menggantungkan harapan kepada mereka. Hal ini tentu saja boleh dilakukan, bahkan didukung oleh dalil syari:

Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
‘Aku pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang menderita demam. Lalu aku menyentuhnya dengan tanganku, kemudian aku mengatakan, ‘Sungguh, Engkau menderita demam yang sangat berat.’ Beliau menjawab, ‘Ya, seperti layaknya demam yang diderita oleh dua orang dari kalian.’ ‘Engkau mendapat dua pahala?’ tanya Ibnu Mas’ud. Beliau menjawab ,’Ya. Tidaklah seorang muslim mengalami penderitaan -sakit dan sebagainya- melainkan Allah akan merontokkan keburukan-keburukan

Wallahu'alam

Read more.... Do'a dari 70 Ribu Malaikat

9 Sep 2011

Resep Kebahagiaan dan Kesuksesan
















Ringankan hidupmu dengan cara menerima beban yang ada,
Ikatlah hasratmu dengan cara melepaskannya,
Marahlah pada sesama dengan cara memaafkannya,
Isilah wawasanmu dengan cara mengosongkan kehebatanmu,
Yakinlah atas azammu dengan cara berserah diri padaNya

Dapatkan yang terbaik dengan cara Memberikan yang terbaik,
Kritiklah orang lain dengan cara istighfar, introspeksi, dan memperbaiki diri sendiri,
Kecilkan masalahmu dengan cara membesarkan Allah,
Cintai yang bukan mahrommu dengan cara mencintai mahrommu karena Allah...


Begadanglah dengan cara Sholat Tahajud yang nikmat...
Redakan emosimu dengan cara Tilawah Quran yang tartil sepenuh hati,
Kayakan dirimu dengan cara Sedekah yang tak kau hitung-hitung balasannya

Kejarlah makhluk dengan cara membiarkannya berlari,
Kejarlah dunia dengan cara mengejar akhirat,
Kejarlah akhirat dengan cara mengejar Tuhan,
Kejarlah Tuhan dengan cara-Nya,
Kejarlah kehidupan dengan cara siap menerima kematian,
Kejarlah kuantitas dengan cara memperbaiki kualitas,

Kejarlah jodoh dengan cara mempersiapkan diri :
Siap menerima kekurangannya
Siap menerima perbedaan
Siap menerima kritikannya

Pintarkan otakmu dengan cara membersihkan hatimu,
Marketingkan produkmu dengan cara memarketingkan dirimu di hadapan Allah SWT...

Aturlah anakmu...Aturlah istrimu... Aturlah anak buahmu..Aturlah umatmu...Aturlah semestamu...dengan cara :
"jangan pernah mengatur mereka, kecuali sekedar taushiyah dan peringatan saja, sebab hanya yang Maha Mengatur kehidupan ini yang dapat memberikan hidayah kepada mereka, dan kepadamu..."

Mohon maaf lahir bathin untuk semua sahabat yang membaca note ini :)


Wallahu a'lam
by: KZ (www.cahaya-semesta.com)





Read more.... Resep Kebahagiaan dan Kesuksesan

29 Agu 2011

Do'a Perpisahan dengan Bulan Ramadhan

 
Selamat Idul Fitri 1432 H Minal Aidin wal Faidzin


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Ya Allah, wahai Dia yang tidak mengharapkan balasan
Wahai Dia yang tidak menyesali pemberian
Wahai Dia yang tidak membalas dengan setimpal

Anugrah-Mu permulaan, ampunan-Mu kebaikan, siksa-Mu keadilan,
ketentuan-Mu sebaik-baik pilihan.

Jika Engkau memberi tidak Kaucemari dengan tuntutan. Jika Engkau
menahan tidak Kautahan pemberian-Mu dengan kezaliman.

Engkau syukuri orang yang bersyukur pada-Mu. Padahal Kauilhamkan
padanya mensyukuri-Mu.

Kaubalas orang yang bersyukur pada-Mu. Padahal Kauajarkan padanya
memuji-Mu.

Kausembunyikan aib orang yang kalau Kaukehendaki Kaudapat
mempermalukannya. Kau sangat pemurah kepada orang yang kalau
Kaukehendaki Kaudapat menahannya. Keduanya layak Kaupermalukan atau
Kautahan. Namun Kautegakkan perbuatan-Mu atas karunia, Kau alirkan
kuasa-Mu atas ampunan.

Engkau sambut orang yang menentang-Mu dengan santun. Engkau biarkan
orang yang berbuat zalim pada dirinya. Engkau tunggu mereka dengan
sabar sampai mereka kembali kepada-Mu. Engkau tahan mereka untuk tidak
segera bertaubat supaya yang binasa tidak binasa karena-Mu, dan orang
yang celaka tidak celaka karena nikmat-Mu. Tetapi hanya setelah Engkau
lama membiarkan mereka dan setelah Kausampaikan rangkaian bukti atas
mereka, sebagai kemurahan ampunan-Mu wahai Yang Maha Pemurah, sebagai
anugrah kelembutan-Mu wahai Yang Maha Santun.

Engkaulah yang membukakan kepada hamba-hamba-Mu pintu menuju maaf-Mu.
Engkau namakan pintu itu taubat. Engkau berikan petunjuk dari wahyu-Mu
kea rah pintu itu supaya mereka tidak tersesat dari situ. Engkau
berfirman: “Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus, semoga
Tuhanmu akan menghapus kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang
beriman bersama dengan dia, sedangkan cahaya mereka memancar di
hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka, seraya mereka berkata: Ya
Tuhan kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami.
Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim, 66: 8)

Apalagi alasan orang yang alpa memasuki  rumah itu setelah pintu
dibukakan dan petunjuk ditegakkan.

Engkaulah yang menahan harga untuk hamba-hamba-Mu. Kauingin mereka
berlaba dalam berniaga dengan-Mu dan beruntung berkunjung kepada-Mu.
Maka Engkau berfirman Mahamulia dan Mahatinggi nama-Mu: “barangsiapa
yang membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat
amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia
tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.” (Al-
An’am, 6: 160)

Engkau berfirman: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-
orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Al-
Baqarah: 261)

Engkau berfirman: “Barangsiapa meminjamkan kepada Allah pinjaman yang
baik, Allah akan melipat-gandakan baginya berkali-kali lipat.” (Al-
Baqarah: 245). Dan ayat-ayat seperti itu dalam Al-Qur’an tentang
kebaikan yang dilipat-gandakan.

Engkau yang menunjuki mereka dengan firman-Mu dan dorongan-Mu yang di
dalamnya keberuntungan mereka, yang sekiranya Kaututupkan dari mereka,
mata mereka tidak melihatnya, telinga mereka tidak mendengarnya,
khayal mereka tidak menangkapnya. Maka Engkau berfirman: “Ingatlah
Aku, Aku pasti mengingatmu. Bersyukurlah pada-Ku dan jangan
ingkar.” (Al-Baqarah: 152).

Engkau juga berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahi kamu.
Jika kamu ingkar, sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim, 14: 7)

Engkau berfirman: Berdoalah kamu kepada-Ku
Akan Aku jawab doamu. Sungguh orang-orang yang sombong dari ibadat
kepada-Ku, mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina (Al-
Mukmin: 60)
Engkau namakan doa kepada-Mu sebagai ibadah, meninggalkannya
kesombongan
Engkau ancam orang yang meninggalkannya masuk neraka Jahannam dalam
keadaan hina.

Sehingga
Mereka mengingat-Mu karena karunia-Mu
Mereka bersyukur kepada-Mu karena anugrah-Mu
Mereka menyeru-Mu karena perintah-Mu
Mereka bersedekah karena karena-Mu
  karena mengharapkan tambahan-Mu
Di situ keselamatan mereka dari murka-Mu
Dan kebahagiaan mereka dengan ridha-Mu

(Kitab Ash-Shahifah As-Sajjadiyah doa ke 45)


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1432 H
Taqabbalallahu minna waminkum.
Mohon Maaf & Lahir atas salah dan dosa
Yang disengaja maupun yang tidak disengaja


Wassalam

www.Tarwiyyah.tk
www.AnekaHerbal.tk

Read more.... Do'a Perpisahan dengan Bulan Ramadhan